KORPORASI

JPPI Pegang Peran Strategis Sebagai Leader of Services Di Lingkungan Operasional IPC Group

Herijanto Direktur Eksekutif HMPM

Mimbar Maritim – Jakarta

Pulau Baai adalah kawasan di ujung selatan Kota Bengkulu dengan luasan sekitar 18 ribu hektare. Jaraknya sekitar 20 kilo meter dari pusat ibu kota Bengkulu. Seluas 1.200 hektare kawasan Pulau Baai dikelola oleh IPC/PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Cabang Bengkulu yang disebut Pelabuhan Pulau Baai. 

Pelabuhan ini menjadi pintu masuk berbagai komoditas yang dibutuhkan masyarakat Bengkulu sekaligus pintu keluar produk ekspor. Sebagian kawasan Pelabuhan Pulau Baai digunakan sebagai area penumpukan atau stockpile batu bara dari wilayah penambangan di Kabupaten Bengkulu Tengah sebelum diekspor ke berbagai wilayah domestik maupun mancanegara.

Baru baru ini pelayanan batubara di Pelabuhan Bengkulu terhenti dengan rusaknya salah satu alat muat batubara yaitu conveyor belt. Dimana dengan kerusakan conveyor mengakibatkan terhentinya kegiatan muat batubara beberapa hari. Dengan terhentinya kegiatan pelayanan batubara ini, beberapa pihak antara lain Asosiasi Pengusaha Batu Bara (APBB) Bengkulu mengajukan protes kepada Pelindo II Cabang Bengkulu bahwa Pelindo II Cabang Bengkulu mengingkari kesepakatan mengenai jaminan pelayanan muat batubara. Dimana mereka menilai dan merasakan bahwa conveyor sering rusak dan lambatnya perbaikan yang berdampak pada lamanya proses pelayanan pemuatan batu bara.

Perlu diketahui bahwa proses muat batu bara di Pelabuhan Bengkulu yaitu dari stockpile ke tongkang menggunakan conveyor. Setiap bulan ada 10-15 tongkang yang melakukan pemuatan batu bara di Dermaga Samudera. Dengan rusaknya conveyor maka kegiatan muat batubara terhenti dan terjadi antrian kapal yang panjang yang menunggu proses muat di dermaga tersebut.

Terkait pelayanan muat, Pelabuhan Bengkulu saat ini bukan lagi seperti dahulu yaitu sebagai operator pelayanan bongkar muat melainkan hanya sebagai fasilitator. Karena hak pengelolaan operator bongkar muat sudah diserahkan sepenuhnya kepada PT. Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) yaitu anak perusahaan PT Pelabuhan II (Persero) yang bergerak dalam bidang bongkar muat curah. 

Namun sebagai pemilik aset, Pelabuhan Bengkulu berkewajiban untuk menginisiasikan kepada pihak-pihak terkait dalam hal ini Asosiasi Pengusaha Batu Bara. Untuk mencari solusi penyelesaian dari permasalahan terhentinya kegiatan pelayanan muat batubara. Inisiasi yang dilakukan Pelabuhan Bengkulu sangat baik, berjalan dengan kondusif dan akomodatif.

Sehingga pihak terkait yang mengajukan keluhan dan protes dapat menerima dengan baik solusi yang ditawarkan oleh Pelabuhan Bengkulu yaitu salah satunya adalah mengalihkan kegiatan pelayanan muat batubara ke dermaga lainnya berkoordinasi dengan KSOP setempat untuk mendapatkan ijin proses muat batubara didermaga lainnya. Hal ini untuk menjamin agar pelayanan muat batubara di Pelabuhan Bengkulu tetap berjalan dengan baik.

Peran Pelabuhan Bengkulu dalam penyelesaian masalah ini dinilai berbagai pihak sangat antisipasif, responnya sangat cepat dan mitigasi risikonya sangat konstruktif. Sehingga tidak menimbulkan gejolak lebih luas lagi dan menjadi polemik yang berkepanjangan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Bengkulu adalah sebuah provinsi penghasil batubara dan merupakan komoditi primadona dan menjadi salah satu penyumbang pendapatan terbesar bagi Provinsi Bengkulu dan Pelabuhan Bengkulu. Dimana arus distribusi barang yang masuk maupun keluar dari Provinsi Bengkulu terutama untuk komoditas ekspor seperti batubara dan CPO (Crude Palm Oil) dengan menggunakan kapal-kapal melalui Pelabuhan Bengkulu. 

Dengan terhentinya atau terhambatnya arus distribusi barang yang masuk maupun keluar dari Provinsi Bengkulu melalui Pelabuhan Bengkulu akan berdampak baik untuk pendapatan Provinsi Bengkulu maupun pendapatan Pelabuhan Bengkulu. Dengan perannya yang sangat vital bagi kelangsungan ekonomi Bengkulu. Pelabuhan Bengkulu memegang peranan yang sangat penting dan strategis terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi Bengkulu.

Inisiasi dan penyelesaian masalah yang dilakukan oleh Pelabuhan Bengkulu semestinya juga menjadi catatan bagi provider bongkar muat (PT.PTP) dan provider alat (PT.JPPI) dalam pelayanan agar dapat dijadikan sebagai bahan improvement kedepannya. Walau didalam permasalahan ini kesalahan mutlak bukan disebabkan oleh pelayanan bongkar muat yang dilakukan oleh PTP atau pelayanan alat dari JPPI melainkan dari human error petugas conveyor. Karena kurangnya pengawasan dilapangan, namun demikian dengan adanya kejadian seperti ini agar dapat dijadikan bahan masukan dan evaluasi bagi pelayanan yang lebih baik dikemudian hari.

Khusus untuk masalah kesiapan alat yaitu sering rusaknya conveyor dan lambatnya penanganan perbaikan, yang kerap kali terjadi di Pelabuhan Bengkulu terlepas dari masalah human error saat ini. Pihak JPPI agar dapat berperan lebih jauh lagi dalam percepatan penanganan perbaikan peralatan dengan penerapan simplifikasi manajeman perbaikan peralatan. 

Karena sejatinya JPPI (PT. Jasa Peralatan Pelabuhan Indonesia) yaitu sebagai anak perusahaan PT.Pelabuhan Indonesia II (Persero) yang bergerak dalam bidang peralatan. Dibentuk khusus untuk menangani perawatan dan perbaikan alat bongkar muat, dengan tugas utama menjamin efisiensi dan availability alat bongkar muat di lingkungan PT Pelindo II.

Dimana tantangan JPPI kedepan sangat strategis bagi PT Pelindo II. Karena ditangan JPPI lah sebenarnya kinerja pelayanan bongkar muat berada. Ditangan JPPI lah kinerja operasional peralatan seluruh pelabuhan dilingkungan PT Pelindo II dipertaruhkan. Siapkah JPPI memegang peran strategisnya sebagai leader of services. 

Hal ini merupakan tantangan untuk JPPI, dapatkah JPPI menjamin kinerja peralatan bongkar muat agar selalu prima (zero trouble). Karena omong kosong semua cabang pelabuhan di PT Pelindo II beserta anak perusahaannya termasuk PTP, jika bicara mengenai service execelent bilamana tidak didukung oleh peralatan yang prima dan memadai. Karena kata kuncinya adalah pelayanan akan baik bilamana peralatannya juga baik, peralatan akan baik bilamana manajemen peralatannya juga baik.

Untuk rencana penerapan berthing window di Pelabuhan Bengkulu dalam penataan operasional didermaga adalah rencana yang sangat baik dalam rangka peningkatan efisiensi biaya dalam pelayanan kapal, terjaminnya kepastian sandar. Sehingga mengurangi waktu Turn Round Voyage (TRV) kapal, dan jaminan ketersediaan dermaga serta meningkatkan produktivitas dan volume barang. 

Namun perlu dijuga diantisipasi dan diwaspadai bilamana akan menerapkan program Service Level Agreement dan Service Level Guarantee (SLA/SLG). Untuk menjamin standar pelayanan dan tanggung jawab masing-masing (pelabuhan dan pengguna jasa) bila tidak mematuhi agreement tersebut.

Dengan SLA/SLG baik pelabuhan sebagai penyedia jasa maupun perusahaan batubara sebagai pengguna jasa memiliki tanggung jawab untuk mematuhi SLA/SLG tersebut. 

Kekhawatiran dalam penerapan SLA/SLG tersebut, terkait dengan kesiapan peralatan dari JPPI apakah siap dengan penerapan tersebut. Karena bilamana JPPI tidak siap akan penyediaan peralatan yang selalu dalam kondisi prima dalam pelayanan pastinya Pelabuhan Bengkulu akan dikenakan denda dari penerapan SLA/SLG tersebut terutama disebabkan keterlambatan muat karena kerusakan alat.

Namun jika JPPI siap untuk penyiapan alat yang selalu prima memang tidak dapat dipungkiri bahwa dengan jaminan tingkat pelayanan SLA/SLG, akan memberikan kepastian pelayanan. Sehingga perusahaan batubara bisa menyiapkan jadwal pengiriman yang tepat dan lebih mudah serta membuat biaya pengiriman barang menjadi lebih murah.

Sisi lain, yang juga perlu mendapat perhatian adalah untuk tidak terulangnya kerusakan dalam pengunaan alat bongkar muat seperti conveyor, perlu adanya penempatan petugas yang khusus mengawasi jalanan kegiatan loading batubara ke conveyor. Mengingat kerap kali terjadi didalam kegiatan loading petugas memasukan batubara melibihi ukurannya. Atau ditempatkan alat screening dan crusher di stockpile, untuk memastikan batubara yang masuk conveyor sesuai dengan ukuran yang semestinya.(Editor-Ody)

Penulis : Harijanto
Direktur Eksekutif HMPM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s