KORPORASI

Ada 4 (empat) Proyek Strategis Nasional Di Wilayah PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero)

Direktur Teknik PT.Pelindo IV (Persero) Prakosa Hadi Takariyanto


Mimbar Maritim – Makassar

PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) kondisi wilayah hinterlandnya berada wilayah Timur Indonesia, Kantor Pusatnya di Makassar Provinsi Sulawesi Selatan dan memiliki 24 Cabang Pelabuhan.

BUMN yang bergerak di bidang kepelabuhanan ini sangat membutuhkan pengembangan infrastruktur dan tenaga yang ahli sesuai dengan bidangnya. Perseroan ini terus melakukan investasi dalam mengembangkan dan meningkatkan layanan dengan dukungan fasilitas dan peralatan yang optimal serta didukung SD M yang handal.

Direktur Teknik PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) Prakosa Hadi Takariyanto kepada Mimbar Maritim saat berbincang-bincang diruang kerja belum lama ini, mengatakan program manajemen Pelindo IV di tahun 2019 telah mendapat 3 (tiga) penghargaan terkait dengan Green Port yaitu Terminal Petikemas Makassar (TPM), PT Pelindo IV Cabang Makassar, Pelindo IV Cabang Balikpapan.

“Untuk penilaian pelabuhan dikatakan green port tersebut ketiga pelabuhan itu minimum nilainya sudah ada 50 dan hal ini sudah nilai diatas 50, tentu kita akan tingkatkan agar lebih baik lagi agar semua dapat meraih green port semua,” katanya.

Prakosa juga menjelaskan pihaknya telah melaksanakan Proyek Strategis Nasional (PSN) diwilayah PT Perlabuhan Indonesia IV (Persero). Proyek Strategis nasional tersebut diantaranya Makassar News Port (MNP), Terminal Petikemas Bitung (TPB), Pelabuhan Pantoloan dan ditambah satu lagi untuk tahun 2020 yaitu Pelabuhan Sorong – Papua.

Menurut dia, Pembangunan tahap Pertama proyek Makassar News Port dari sisi laut memiliki panjang dermaga 320 meter dan break water 1.310 m2 dengan kedalaman 16 meter LWS (Low Water Spring) sedangkan dari sisi darat memiliki lapangan penumpukan (Container Yard/CY) seluas 16 hektar dan jalan akses.

Lebih lanjut Prakosa, menyebutkan MNP secara umum tahun 2019 eksisting fasilitas dan peralatan yakni untuk supra srtukur memiliki : Container Crane (CC) 4 unit, RTG 16 unit, Terminal Tractor 25 unit. Terminal Petikemas ini produksi 42 BSH, trafik 98.000 TEUs per tahun (Tahun 2019) sudah dilaksanakan soft opening dan kapasitas 250.000 TEUs per tahun.

Pengembangan NMP tahun 2020 – 2022 tahap Kedua akan ada penambahan atau pengembangan fasilitas diantaranya panjang dermaga 1040 meter, container 64 hektar, Container Crane (CC) 10 unit, RTG 30 unit, Termnal Tractor 100 unit, Chassis 150 unit. Pengembangan Makassar New Port ini selain Terminal Petikemas akan sejalan dengan pengembangan pelabuhan Multipurpose. Untuk produksi mencapai 45 BSH dengan kapasitas 1.200.000 TEUs per tahun, melayani pelayaran domestik 8 pelayaran dan internasional (ocean going) 2 pelayaran.

“ Sedangkan pembangunan tahap Ketiga MNP rencana kedepan sesuai dengan Blok Plane bahwa Makassar New Port secara keseluruhan akan menjadi Zone Ekonomi Terintegrasi dengan akses stasiun kereta api,” ungkapnya.

Dia mengatakan secara regulasi RIP (Rencana Induk Pelabuhan) telah disetujui oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dan sudah memenuhi syarat untuk dikembangkan, tinggal bagaimana dunia bisnis dan Indonesia Timur.

Pembangunan MNP kata Prakosa tidak melakukan penggusuran rumah penduduk karena pembangunan dari sisi laut dengan melakukan reklamasi dan pengerukan. Pembangunan MNP memiliki tiga phase A,B dan C yakni phase A sudah beroperasi, phase B sedang reklamasi. Pada phase B sudah disiapkan fasilitas kantor Bea Cukai dan lapangan yang dikasi marka untuk pemeriksaan barang-barang impor.

“ Saat ini MNP sudah melayani kapal sandar, dan MNP tidak lagi memakai Mesin Diesel atau bakar BMM lagi, akan tetapi sudah menggunakan energi Listrik PLN untuk menyelamatkan alat agar tidak cepat rusak. Karena di pelabuhan Makassar energi Listrik sudah over suplai dalam arti positif berarti sudah dapat memanfaatkan listrik dari PLN. Hal ini juga menjadikan MNP menjadi green port,” terang Prakosa.

Ditambahkan, kedepan kita akan menggunakan energi Listrik di Cabang – Cabang Pelabuhan Pelindo IV mana saja yang sudah memadai seperti Pelabuhan Bitung, Kendari akan dimodifikasi menjadi energi listrik. Walaupun memodifikasi alat tersebut membutuhkan biaya namun sisi pelayanan lebih cepat dan nyaman serta menghemat biaya produksi dibandingkan dengan menggunakan mesin Diesel.

Prakosa juga menjelaskan realisasi kedua tahun 2019 Proyek Hub Bitung memiliki fasilitas sisi laut yaitu pembangunan Dermaga 131 x 35 m2 dan pembangunan Trestle 74 x 11.5 m2 dan sisi darat yakni reklamasi dan penahan tanah 5 hektar, perkerasan lapangan penumpukan petikemas 5 hektar.

Secara Umum Pelabuhan Bitung Eksisting fasilitas dan peralatan : Panjang Dermaga 701 meter, Conainer Yard 10 hektar, kedalaman 10 meter LWS, Conainer Crane (CC) 5 unit, RTG 10 unit, Head Truck 27 unit, Chassis 26 unit, Forklit 3 unit. Tipe pelabuhan Multipurpose, produksinya BCH mencapai 26 BSH, trafik sudah mencapai 285.000 TEUs per tahun dengan kapasitas 500.000 TEUs per tahun dan untuk jenis pelayaran Domestik 4 pelayaran dan Internasional 1 pelayaran.

Prakosa menyebutkan pengembangan pelabuhan Bitung Tahun 2020 – 2030, fasilitas dan peralatan pelabuhan : panjang dermaga 1.167 meter Conainer Yard (CY) 31 hektar, CC 15 unit, RTG 20 unit, Head Truck 50 unit, Chassis 50 unit dan Forklift 3 unit. Terminal Petikemas ini produksi BCH mencapai 38 BSH, Trafik dan Kapasitas 1.500.000 TEUs per Tahun dan Jenis Pelayaran Domestik 8 Pelayaran, Internasional 2 Pelayaran.

Lebih lanjut, Prakosa menjelaskan PSN ke tiga tahun 2019 dilingkungan Pelindo IV Proyek Pelabuhan Pantoloan : Dari sisi darat fasilitas yaitu Container Crane 1 unit, alat bantu bongkar muar di lapangan, penataan zonasi pelabuhan.

Menurut Prakosa, secara umum tahun 2020 (eksisting) pelabuhan Pantoloan memiliki fasilitas dan peralatan yaitu Panjang Dermaga 549 meter, kedalaman 10 meter LWS, Container Yard 5,3 Hektar, CC 1 unit, RTG 3 unit, Lufing Crane 1 unit, Head Truck 6 unit, Chassis 9 unit. Tipe pelabuhan ini Multipurpose dengan produksi BCHnya 22 BCH, trafik 70.000 TEUs per Tahun dengan Kapasitas 125.000 TEUs per tahun, jenis pelayaran Domestik 3 pelayaran dan pelayaran Internasional kosong.

Sedangkan Pemgembangan Pelabuhan Pantoloan tahun 2020 – 2030 kata Prakosa untuk fasilitas dan peralatan yaitu panjang dermaga 2000 meter, Container Yard 38 Hektar, CC 9 unit, RTG 27 unit, Head Truck 6 unit, Chassis 40 unit, produksi BCHnya mencapai 38 BCH, trafik dan kapasitas 1.000.000 TEUs per tahun dan melayani pelayaran Domestik 5 pelayaran sedangkan pelayaran Internsional kosong.
Untuk tahun 2020 Pelindo IV menambah lagi PNS yaitu Kinerja dan Usulan Pengembangan Pelabuhan Sorong rencananya tahun 2020-2035.

Prakosa menyampaikan secara umum eksisting pelabuhan Sorong memiliki fasilitas dan peralatan yakni panjang dermaga 450 meter, Container Yard 5 hektar, Reachsatcker 4 unit, Mobile Crane 1 unit, Forklit 2 unit Head Truck 4 unit. Tipe pelabuhannnya Multipupose dengan produksi BCHnya 10 BCH, trafik 50.000 TEUs dan kapasitas 150.000 TEU, melayani pelayaran Domestik 3 pelayaran dan ocean going kosong.

Lebih lanjut, Prakosa menyebutkan untuk pengembangan dengan fasilitas dan peralatan Panjang Dermaga 600 meter, CY 13,3 hektar, Container Crane (CC) 4 unit, Reachsatcker 4 unit, RTG 12 unit, Forklit 2 unit, Head Truck 24 unit. Tipe pelabuhan Terminal Kemas dengan produksi BCHnya 38 BCH, trafik dan kapasitasnya 500.000 TEUs per tahun, melayani pelayaran domestic 5 pelayaran dan Internasional 1 pelayaran.

Ditambahkannya, pelabuhan Sorong akan terintegrasi dengan pelabuhan Arar dan Kawasan Ekonomi Ksusus (KEK) Sorong. Dimana pengembangan pelabuhan Arar memiliki kedalaman kolam -9 sampai dengan -12 meter LWS. Master Plan KEK Arar Sorong luas area KEK 523.5 hektar dan clearance 300 hektar. Rencana pengembangan pelabuhan Arar Sorong yaitu Zona Gas, Zona CPO, Zona Semen, Zona Aspal, Zona Multi purpose.

“ Pembangunan 4 Pelabuhan Strategis Nasional di Wilayah PT Pelindo IV (Persero) pendanaan seluruhnya bukan dari anggaran Pelindo IV semua, akan tetapi ada dana pinjaman dari mitra dan market sounding,” ungkap Prakosa.

Terkait pemeliharaan peralatan bongkar muat di seluruh pelabuhan PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero)
Prakosa mengatakan umumnya kerusakan alat adalah pada engine sebagai power suplai, pihaknya telah melakukan program mulai dari tahun 2019 untuk mereformis seluruh peralatan yang ada di PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero), alat mana saja yang tidak layak semuanya sudah di evaluasi dan refresh kembali  alat – alat di pelabuhan. Dengan merubah dari engine menjadi menggunakan energi listrik agar resiko kerusakannya lebih rendah.

“ Kita sudah melaksanakan sesuai program pemerintah agar peralatan yang ada di pelabuhan tidak semua menggunakan engine (bakar BMM) tetapi merubah alat itu agar menggunakan energi listrik akan berdampak terhadap efisiensi biaya operasional. Karena perubahan dari engine ke pemakaian energi listrik bisa menghemat biaya operasional mencapai dari 70-80 persen dan sebahagian lagi alat tersebut bisa menggunakan baterai,” pungkas Prakosa.(Ody-01).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s