SPJM Ekspansi Bisnis Pemanduan dan Penundaan Pada TUKS/Tersus

Sekretaris Perusahaan SPJM Tubagus Tribudi Utama Iskandar Patrick Saat Pemaparan di Hadapan Awak Media, Medan Sabtu (27/4/2024)

Mimbarmaritim.com (Medan)
PT Subholding Pelindo Jasa Maritim (SPJM) Kantor Pusat nya di Makassar Sulawesi Selatan, salah satu dari 4 (empat) Subholding PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang memiliki tiga klaster core bisnis dengan kategori layanan yakni Marine, Equipment dan Port Services yang disingkat dengan MEPS.

Seiring waktu berjalan pengembangan bisnis SPJM dari 3 layanan ini, telah dibagi lagi menjadi 5 (lima) klaster, dalam proses pemurnian bisnis anak dan cucu usaha SPJM masih terus berproses. Saat ini SPJM memiliki wilayah operasional mencakup seluruh Nusantara yang terbentang dari ujung Pulau Sumatera Malahayati hingga Merauke.

Sekretaris Perusahaan SPJM Tubagus Tribudi Utama Iskandar Patrick menuturkan SPJM saat ini bukan hanya melayani internal Pelindo saja, namun SPJM terbuka untuk kerja sama dan bersinergi dalam dukungan layanan dengan para mitra strategis yang baik, baik itu mitra entitas domestik maupun di luar negeri.

“ SPJM dalam mengelola layanan bisnisnya saat ini dikelola 8 (delapan) anak perusahaan yaitu : PT Jasa Armada Indonesia Tbk., PT Pelindo Marine Service, PT Equiport Inti Indonesia, PT Jasa Peralatan Pelabuhan, PT Energi Pelabuhan Indonesia, dan PT Pengerukan Indonesia, PT Berkah Industri Mesin Angkat (BIMA), dan PT Lamong Energi Indonesia. SPJM juga memiliki 3 (tiga) cucu perusahaan yaitu PT Alur Pelayaran Barat Surabaya, PT Berkah Multi Cargo, dan PT Pelindo Energi Logistik,” terang Sekretaris Perusahaan SPJM lebih familiar di panggil Patrick dalam acara Media Luncheon di Medan, Sabtu (27/4/2024) kemarin.

Patrick menjelaskan dari ke 3 kategori layanan SPJM yakni pertama Marine mencakup layanan jasa pemanduan, jasa penundaan, jasa penundaan, transportasi crew, agensi kapal dan pasokan BBM pada kapal. Layanan kedua, Euiqpment mencakup Peralatan dan Fasilitas yaitu penyediaan peralatan pendukung, pemeliharaan dan fasilitas, penjualan spare part, kontribusi fasilitas pelabuhan, elektrifikasi peralatan, pengelolaan inventory sparepart. Alat Apung meliputi : penjualan spare part, perbaikan kapal, pengelolaan inventory spare part dan pabrikasi kapal.

“Sedangkan yang ke tiga, Port Services yaitu Dredging ( pengembangan alur dan pemeliharaan alur), Utilities dan Energy meliputi : pasokan air bersih ke kapal, pasokan listrik kapal (shore connection), penyedia listrik pelabuhan dan pasokan perbekalan kapal (ship chandiers),” sebut Patrick.

Selain itu, Patrick juga menyebutkan struktur organisasi SPJM khusus di Sumatera Wilayah I yang dipimpin Senior Manager Wilayah I bertempat di Batam dengan Area Sumatera I meliputi Unit Belawan, Unit Kuala Tanjung dan Unit Mahalayati. Area Sumatera II meliputi Unit Dumai, Unit Pekan Baru dan Unit Tembilahan, sedangkan Area Sumatera III meliputi Unit Batam, Unit Tanjung Pinang, Unit Selat Malaka, Unit Tanjung Balai Karimun.

“Rencana ekspansi bisnis SPJM pemanduan dan penundaan baik di TUKS atau Tersus yaitu daerah Tarempa, Sangatta, Kideco, Tilamuta, dan Weda Bay,” sebut Patrick.

Patrick menambahkan ekspansi bisnis SPJM diluar pemanduan dan penundaan yang sudah berhasil dilakukan untuk Oil Spill Respone (OSR) di Group Pelindo yaitu di pelabuhan Belawan, Dumai, Tanjung Emas Semarang, Tanjung Perak Surabaya, Bumiharjo dan Pelabuhan Bagendang Sampit Kalimatan Utara.

“Tentu dengan keberagaman segmen bisnisnya, SPJM Group dapat menyediakan integrated one stop service bagi pengguna jasanya. Layanan juga dapat dibuat dengan menyesuaikan kebutuhan pengguna jasa sehingga dapat memberikan pengalaman yang terbaik bagi mereka. Sebagaimana diketahui, penggabungan BUMN Pelabuhan menjadi PT Pelabuhan Indonesia (Persero) dilakukan untuk mewujudkan tiga tujuan utama di tingkat negara (pemerintah), ekosistem dan Pelindo sendiri,” jelas Patrick.

Dia menambahkan ketiga tujuan tersebut adalah untuk meningkatkan konektivitas dan standardisasi pelayanan pelabuhan, layanan logistik terintegrasi, dan keunggulan operasional, komersial, dan keuangan. Hal ini berhubungan erat dengan efisiensi supply chain maritime di Indonesia.(MM-01).

Tinggalkan komentar