AKSI KORPORASI

IPC TPK CABANG PONTIANAK GANTI 4 UNIT MESIN ALAT BONGKAR MUAT RMGC

Mimbar Maritim – Pontianak

IPC Terminal Peti Kemas (IPC TPK) Cabang Pontianak dalam meningkatkan mutu pelayanan dan volume produktivitas bongkar muat di terminal  petikemas. IPC Terminal Petikemas dalam  menunjang perbaikan pelayanan  bongkar muat telah melakukan pergantian 4 (empat) unit mesin baru untuk alat RMGC (Rail Mobile Gantry Crane) 
Pergantian mesin baru ini wajar dilakukan IPC TPK karena pembelian baru tahun 2011 dan diganti tahun 2019. Dari pada mesin tersebut over hall , mengingat umur sudah lumayan tua dan tidak produktif lagi maka dilakukan penggantian mesin baru.

” Pergantian mesin baru alat RMGC ini, ternyata pengaruhnya jauh lebih efisien karena kecepatan mesin berbeda dengan yang lama,” demikian disampaikan Manager Area IPC Terminal Peti Kemas Cabang Pontianak Hendri Purnomo kepada Mimbar Maritim, saat berbincang – bincang diruang kerjanya pekan kemarin.

Hendri Purnomo mengatakan dengan memperhitungkan usia pakai dengan jam operasinya cukup tinggi sekitar 21 jam per tujuh hari. Maka resiko kerusakan mesin lama cukup riskan maka diganti dengan baru, agar tingkat produktivitas jauh lebih tinggi.

” Dengan digantinya mesin baru alat RMGC ini, tentu ada jaminan operasionalnya yang lebih safety untuk produktivitas pelayanan customer dan terhindar dari komplain dari pengguna jasa,” ujar Hendri.

Ketika ditanya terkait dengan sinergi sesama anak perusahaan Pelindo II seperti PT Jasa Peralatan Pelabuhan Indonesia (JPPI) saat ini menjadi mitra IPC TPK untuk merawat seluruh peralatan di Terminal Petikemas Pontianak. Henry Purnomo mengatakan saat ini sudah lebih baik dibandingkan tahun – tahun awalnya JPPI berdiri.

Hal ini, katanya pihaknya bisa melihat dari klaim dari pada pelanggan di lapangan, karena dulu para custumer itu ada yang teriak terkait dengan pelayanan, namun sekarang tidak ada lagi. Klaupun ada sifatnya tidak terlalu darurat, paling terlambat 1-2 jam semua langsung cepat teratasi dengan cepat. 

Sejauh ini, semuanya kita anggap jauh lebih bagus. Hal ini juga dapat dibuktikan terhadap survei kepuasan pelanggan.  Kita melihat sekarang dari sisi peralatan JPPI dan SDMnya sudah dilengkapi sama – sama Cabang Pontianak dan IPC TPK mendorong menambah jumlah SDM dengan kompetensinya, pembagian forsi pekerjaan sudah dilakukan JPPI. 

Dijelaskannya, ketika ada yang urgent alat bongkar muat di lapangan bahwa JPPI sudah cepat tanggap, Sekarang kecepatan bongkar muat di IPC TPK Pontianak untuk Box Crane Hour (BCH) 27 per hour sedangkan untuk Box Ship Hour (BSH) 35 per hour. 

Hendri Purnomo juga mengakui selama 2019 throughput petikemas terjadi sedikit menurun dibandingkan 2018. Selama 2019 throughput hanya tercapai 262.880 TEUs, sedangkan 2018 mencapai 277.887 TEUs.

Dia mengungkapkan saat ini kontrak windows dengan delapan perusahaan pelayaran di IPC TPK Pelabuhan Pontianak sudah penuh .Windows sudah penuh, sehingga tidak bisa lagi menambah kapal peti kemas reguler masuk ke Pontianak.

Delapan perusahaan pelayaran itu adalah PT Tanto Intim Line, PT Tempuran Emas Tbk, PT Prima Nur Panurjwan, PT SPIL, PT Spedak Utama Sipindo, PT Lintas Kumala Abadi, PT Meratus Lines, dan PT Samudra Intan.

Dia mengatakan lima perusahaan pelayaran sebagai kontribusi terbesar  adalah PT Tanto Intim Lines, menyusul PT Tempuran Emas Tbk, PT Salam Pasific Indonesia Lines, PT Pelayaran Panurjwan dan PT Sepedak Utama Sipindo.

“Sejak Januari 2019 kinerja operasional sudah mencapai 47 BSH (Box/Ship/Hour) atau hampir dua kali lipat lebih tinggi dari standar Ditjen Perhubungan Laut yang ditetapkan 24 BSH,” pungkas Hendri (Ody-01).