
Mimbarmaritim.com (Padang)
IPC TPK Teluk Bayur saat ini melakukan pembenahan dengan menerapkan pola operasional baru untuk meningkatkan produktivitas arus bongkar muat petikemas, juga termasuk melakukan kolaborasi dengan Pelayaran dengan bentuk co-marketing dalam menghadapi persaingan. Untuk menciptakan pangsa pasar baru (muatan) agar pihak cargo owner melakukan kegiatan ekspor direct dari pelabuhan Teluk Bayur – Padang, Sumatera Barat.
Manager Area IPC TPK Teluk Bayur, Erika Sudarto, diruang kerja , Kamis (25/1/2024) kepada Mimbar Maritim didampingi Asisten Manager (Asman) Pendukung Operasi, Yudha Susanto dan Asman Rendal Operasi Muhammad Hanif Zuli menjelaskan bahwa IPC TPK Teluk Bayur akan mencoba mengefektifkan pola operasional baru terutama dari sisi pemberdayaan pola kerja SDM dilapangan dengan tujuan menekan efisiensi biaya operasional.
Menurut Erika, tidak perlu menambah biaya operasional tetapi bagaimana kegiatan operasi dilapangan bisa lebih cepat dan maksimal serta kegiatan kapal dapat dipersingkat di dermaga. Hal ini tentunya akan dapat menolong masyarakat dari sisi efiensi biaya logistik.
Disamping itu juga akan melakukan ekspansi guna mengekplorasi peluang mendapatkan market. Salah satu strateginya adalah dengan melakukan pemasaran bersama (co-marketing) dengan perusahaan pelayaran sebagai customer terminal.
“ Hal ini kami lakukan dengan tujuan untuk meningkatkan throughput melalui proses kontainerisasi kargo dari dan ke Terminal Peti Kemas ke pelabuhan Teluk Bayur,” kata Erika
Erika mengungkapkan pembenahan pola operasional baru dan kegiatan co-marketing bersama telah direncanakan untuk satu tahun kedepan dengan melibatkan perusahaan Pelayaran yang menjadi prioritas di IPC TPK Teluk Bayur.
“Triwulan IV tahun 2023 IPC TPK Teluk Bayur telah menambah fasilitas plugin Reefer Container menjadi 20 unit dapat digunakan pengguna jasa (pemilik barang) guna menjaga kualitas cargonya agar tetap segar saat dikirim kepada pihak konsumen,” ujarnya.
Menurut dia, dengan ditambahnya berbagai fasilitas pelayanan dan kelengkapan TPK Area Teluk Bayur, untuk digunakan dalam bongkar muat kargo yang menggunakan fasilitas Reefer, seperti produk hasil laut, produk consumer goods, dan produk lainnya agar kualitasnya tetap terjaga ketika dikirim kepada konsumen.
Lebih Lanjut, Erika menjelaskan komoditas yang naik pada tahun 2023 IPC TPK Teluk Bayur diantaranya Semen naik 26,17% dari tahun 2022 atau mengirim sebanyak 11.986 box di tahun 2023. Sedangkan untuk komodititas Batu Perlite tahun 2023 mencapai sekitar 224 box atau kenaikan sekitar 6,23% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (tahun 2022).
Sementara komoditas Palm Fatty tahun 2023 mencapai 46 box atau kenaikan sekitar 130% dari tahun 2022 dengan tujuan Korea Selatan dan China, komoditas Coconut Milk (Santan Kelapa) tahun 2023 mengirim sebanyak 141 box tujuan China, Malaysia dan Eropa.

Dalam kesempatan terpisah, General Manager PT Meratus Line Cabang Sumatera Barat Purjiyatno kepada Mimbar Maritim di ruang kerjanya menjelaskan terkait muatan keluar dari pelabuhan Teluk Bayur Sumatera Barat, untuk saat ini mayoritas adalah Semen Padang yang pengiriman di wilayah Sumatera diantaranya Sibolga, Bengkulu, Banda Aceh dan Belawan (Medan).
“Meratus angkut Semen Padang dengan tujuan Belawan dan Kuala Tanjung, dari Padang transit melalui Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dilanjutkan ke Belawan dan Kuala Tanjung. Sedangkan untuk Bengkulu yang angkut adalah Temas dan SPIL, jadi jelas kalau produk utama dari Padang Sumatera Barat adalah Semen,” tuturnya.
Purjiyatno mengatakan kalau produk ekspor dari Sumatera Barat ada beberapa produk yang nomor satu adalah Karet (Rubber), untuk Karet dari 3 sampai 4 tahun yang lalu ada pluktuasi harga dunia yang cenderung turun dan turun secara global, sehingga berimbas kepada biaya petani Karet. Dimana yang tadi memiliki Kebun Karet tetapi dengan murahnya harga Karet otomatis pabrik juga beli dengan harga yang murah.
“ Dulu harga bisa di angka harga Rp.15.000,- per kilo gram sekarang turun di harga Rp.7.000,- per kilo gram bahkan sampai dengan harga harga Rp.5.000,- atas dasar itu lah petani karet mulai meninggalkan Karet. Sehingga ada yang berpindah menjadi petani Kelapa Sawit dan jualan jasa lain. Sehingga pabrik Karet di Sumatera Barat kekurangan pengadaannya (stock) untuk memenuhi permintaan Amerika dan Eropa,” sebutnya.
Dikatakannya, untuk saat ini di Sumatera Barat sudah ada 3 pabrik Karet yang besar tutup, dimana dulunya ke tiga pabrik tersebut bisa ekspor Karet mencapai 200 box per bulan (3.000 ton) lewat Pelabuhan Teluk Bayur.
Purjiyatno menambahkan untuk saat ini karena berkurang ekspor Karet dengan stock 2.000 – 3.000 ton. Sehingga kami lakukan pengiriman 1 bulan atau 2 bulan sekali, hal itu lah yang bisa kami coba dengan pihak pabrik Good Year dan sudah jalan pengirimannya tidak harus menunggu 3.000 tergantung stock yang ada. Misalkan kalau ada stock 300 ton bisa juga langsung di kirim melalui pelabuhan Teluk Bayur.
“Intinya kita tetap mendukung operasional IPC TPK Teluk Bayur dan tetap bersinergi melalui co–marketing mencari muatan untuk bongkar dan muat lewat Pelabuhan Teluk Bayur,” tutupnya. (Red-MM).