LOGISTIK

Pelabuhan Patimban Sangat Potensi Kompetitor Tanjung Priok

Mimbar Maritim – Jakarta

Pelabuhan Patimban, Subang Jawa Barat telah ditetapkan pengelolaannya kepada Pihak Swasta oleh Pemerintah Indonesia. Hal ini, telah disampaikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dihadapan para pengusaha kapal yang tergabung dalam Asosiasi Badan Pelabuhan Indonesia (ABPI) dan Persatuan Pengusaha Pelayaran Niaga Nasional Indonesia atau Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) dalam acara HUT Ke-5 ABPI di Hotel JW Marriot Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Menhub, menyerahkan dan memberikan amanah tersebut agar pelabuhan Patimban kelak dapat bersaing dan berkompetisi dengan pelabuhan-pelabuhan yang sudah sejak lama berdiri seperti Pelabuhan Tanjung Priok. “Insyaallah pada bulan September 2020 akan soft launching,” kata Menhub pada kesempatan itu.

” Pernyataan itu sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut dan dicermati, sekaligus mengakhiri polemik yang selama ini berkembangan, tentang siapakah sebenarnya Pengelola Pelabuhan Patimban,” demikian disampaikan Harijanto Direktur Eksekutif Himpunan Masyarakat Peduli Maritim kepada Mimbar Maritim di Jakarta,Jumat (28/2/2020).

Harijanto menjelaskan terkait dengan hal ini, pertanyaannya mengapa menarik untuk dibahas. Pertama sekali yang dilihat adalah dari letak geografisnya, Pelabuhan Patimban terletak di Jawa Barat bagian Barat yang hampir berdekatan langsung dengan Ibukota Jakarta hanya terhalang dua kabupaten yaitu Karawang dan Bekasi.

Dengan letak geografis tersebut akan dapat mereduksi waktu dan biaya bagi kegiatan ekspor dan impor khususnya dari kawasan kawasan industri yang berada di wilayah Bekasi dan Karawang dan umumnya untuk wilayah Jawa Barat sekitarnya yaitu wilayah Bandung, Cirebon dan daerah lainnya di Jawa Barat.

” Bandung selama ini melaksanakan kegiatan ekpor impornya melalui Trucking dan sebagian kecil menggunakan Kereta Api ke Pelabuhan Tanjung Priok. Sedangkan Cirebon sebagian besar menggunakan trucking untuk kegiatan ekspor dan impornya ke Pelabuhan Tanjung Priok,” katanya.

Source : JICA
Menurut Harijanto, dengan dioperasikannya Pelabuhan Patimban, rantai waktu dan distribusi pengiriman akan semakin cepat. Karena selama ini kemacetan lalu lintas di DKI Jakarta dan/atau jalan tol Cikampek menyebabkan keterlambatan dan tidak efisien transportasi darat dan memaksa pemasok. Untuk mengambil alih persediaan berlebih untuk menghindari gangguan jalur produksi pelanggan mereka.

” Perusahaan logistik mengoperasikan layanan di malam hari dan perusahaan manufaktur terpaksa menjadwal ulang perpindahan tenaga kerja serta berjuang untuk mengurangi biaya material dan upah. Kondisi yang tidak menguntungkan tersebut menimbulkan biaya tambahan untuk perusahaan,”ujarnya.

Lebih Lanjut, Harijanto mengatakan untuk yang kedua dari aspek operasional. Kondisi objektif saat ini yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok antara lain informasi dan/ atau keterlambatan pengiriman kontainer kosong telah menyebabkan kerja lembur para karyawan, kurangnya area penumpukan petikemas, fasilitas berlabuh kapal, lalu lintas terus menerus mengalami kemacetan baik di dalam maupun sekitar pelabuhan dan lead time yang lebih lama.

Selanjutnya, kata Herijanto bahwa kerusakan barang selama pekerjaan bongkar muat, tarif tinggi penyimpanan petikemas dan pencurian kargo di dalam pelabuhan serta peraturan peraturan kerap kali dikeluhkan pengguna jasa.

Lebih jauh Harjanto menjelaskan dengan dibangunnya pelabuhan baru berskala internasional yang letaknya berada diluar Ibukota seperti Pelabuhan Patimban akan dapat diharapkan dapat mengakomodir dan adaptip terhadap keinginan dan harapan dari pengguna jasa.

Adapun keinginan dan harapan tersebut telah dirangkum oleh Tim Suvey JICA sebagai berikut :

  • Efisiensi dan fungsi pelabuhan baru minimal sama pelayanannya atau jauh lebih baik dari Pelabuhan Tanjung Priok.
  • Jalan raya baru harus dibangun untuk mengamankan akses yang lancar ke port baru.
  • Layanan bea cukai minimal sama atau lebih efisien dari Pelabuhan Tanjung Priok.
  • Cadangan daerah dan pedalaman (hinterland) harus dikembangkan seiring dengan pengembangan pelabuhan baru.
  • Diterapkannya layanan 3 hari gratis untuk layanan penumpukan.
  • Jumlah Gate (gerbang) yang cukup harus disediakan di port baru.
  • Adanya akses kereta api.

” Permintaan (demand) pengguna potensial pelabuhan ini dapat mewakili suara atau keinginan seluruh komponen pelaku bisnis dipelabuhan, bahwasannya efisiensi waktu dan biaya adalah merupakan hal yang utama dalam rangka menurunkan biaya logistik nasional,”terangnya.

Menurut Harijanto, bahwa kedua aspek tersebut sudah dapat disimpulkan bahwa Pelabuhan Patimban akan memainkan perannya sebagai pelabuhan baru. Dengan harapan baru dengan area market sharenya meliputi wilayah Jawa Barat kecuali wilayah Bekasi sedangkan Pelabuhan Tanjung Priok meliputi DKI Jakarta, Banten dan Bekasi sesuai kajian JICA.

Harijanto, secara rinci menyampaikan pembangunan pelabuhan Patimban dalam Tahap pertama Fase I, lanjutnya akan digunakan untuk terminal peti kemas seluas 35 hektare dengan kapasitas 250.000 TEUs dan 25 hektare untuk terminal kendaraan utuh (completely build up/CBU) dengan kapasitas 218.000 unit. Fase II akan dikembangkan terminal peti kemas seluas 66 hektare berkapasitas 3,75 TEUs, terminal kendaraan berkapasitas 382.000 unit kendaraan utuh (CBU), dan Ro-Ro terminal sepanjang 200 meter.

Sedangkan tahap kedua, kapasitas pelayanan terminal peti kemas akan meningkat menjadi 5,5 juta TEUs. Dan pada tahap ketiga akan meningkat hingga 7,5 juta TEUs. Yang menarik dari dibangunannya Pelabuhan Patimban dan penetapan pengelolaannya dipercayakan kepada pihak swasta akan terjadi persaingan (kompetisi) secara ketat antara Pelabuhan Tanjung Priok dengan Pelabuhan Patimban dimasa datang.

” Dengan beroperasinya Pelabuhan Patimban diperkirakan arus petikemas dan barang di Pelabuhan Tanjung Priok akan mengalami penurunan. Dan penurunan yang paling besar akan terjadi di Terminal Kendaraan PT. Indonesia Kendaraan Terminal (IKT),” pungkas Harijanto. (Ody-01).

Kategori:LOGISTIK, MARITIM, PELABUHAN

Tagged as: