
Mimbarmaritim.com (Jakarta)
PT Subholding Pelindo Multi Terminal (SPMT) salah satu Subholding PT Pelabuhan Indonesia (Persero) menggelar acara program pertama yang dilakukan SPMT pasca merger Pelindo mengangkat tema “ 2 Tahun Pelindo Transformasi Pelabuhan Non Petikemas Indonesia” sekaligus menyelenggarakan acara Anugerah Kompetisi Jurnalist SPMT Group 2024 bertempat The Ball Room at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Selasa (2/7/2024).
Dalam Acara Anugerah Kompetisi Jurnalist SPMT Group 2024 hadir sebagai narasumber diantaranya Direktur Utama PT Subholding Pelindo Multi Terminal (SPMT) Ary Henryanto, Guru Besar Bidang Resiko Logistik Maritim ITS Prof.Saut Oloan Gurning, Executive VP Port Handling And Stevedoring FKS Logistic Wiji Dewabroto. Ketiga Narasumber membahas tentang Bisnis Kepelabuhanan yang dipandu oleh Moderator pertama : Siswanto Rusdi dari Namarin (National Maritime Institute).
Wakil Ketua Bidang Komunikasi Publik Glory Oyong sebagai Moderator kedua memandu narasumber lainnya membahas terkait mendukung kemajuan Jurnalistik tentang Kehumasan di Indonesia yakni Pemimpin Redaksi Kumparan Arifin Asydhad, Senior Foto Jurnalis Oscar Motuloh, Pemred Kompas.com Wisnu Nugroho dan Ketua Bidang Komunikasi Publik dan Kehumasan Perhumas Haviez Gautama . Selain itu, pada kesempatan tersebut hadir juga jajaran Direksi anak perusahaan SMPT, awak media elektronik dan media online.
Direktur SDM PT Subholding Pelindo Multi Terminal Petikemas Edy Priyanto dalam sambutannya mengatakan SPMT adalah Subholding Pelindo Multi Terminal yang core bisnisnya mengelola kegiatan bisnis Non Petikemas yang operasionalnya Pelindo Multi Terminal.
SPMT saat ini telah mengelola 36 Cabang Pelabuhan Multi Terminal dan mengelola tiga anak perusahaan di bawah SPMT diantaranya PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) , PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk, PT Terminal Curah Utama.
Edy mengungkapkan setelah Pelindo Merger ,cukup banyak pekerjaan rumah (PR) yang dilakukan manajemen SPMT salah satunya adalah bagaimana SPMT dalam memperbaiki layanan dan melakukan standarisasi atas operasi yang ada. Jadi pelabuhan yang di kelola SMPT harus melakukan standarisasi pelayanan yang sama di satu pulau dengan pulau yang lain.
Menurut dia, hal tersebut tentunya bukan lah pekerjaan yang mudah akan tetapi perlu dukungan dari semua pihak dan dukungan dari para media, karena hal ini dapat dikomunikasikan adalah melalui media. Transformasi yang sudah dilakukan SMPT untuk memperbaiki perusahaan adalah berdasarkan dari 6 (enam) pilar yakni Proses Bisnis, Sumber Daya Manusia (SDM), Teknologi Informasi, Peralatan, Infrastruktur dan HSSE (Health Safety Security and Environment).
“Ke enam pilar ini yang menjadi fondasi SMPT untuk melakukan standarisasi. Program standarisasi ini tujuan utamanya adalah bagaimana meningkatkan kinerja dan efiensi perusahaan,” tutup Edy.
Sementara, Direktur Utama PT SPMT Ary Henryanto pada kesempatan yang sama mengatakan Pelindo merger membagi 4 Subholding yakni Subholding Pelindo Petikemas, Subholding Pelindo Jasa Maritim, Subholding Pelindo Multi Terminal dan Subholding Pelindo Solusi Logistik dengan tujuan utama dilakukan seperti itu adalah agar Pelindo fokus saat mengelola bisnisnya.
“Terkait transformasi Non Petikemas tentu kita harus melihat jenis komoditi apa yang dilayani. Tentu hal ini bisa membawa SPMT lebih profesional saat melakukan penanganan barang curah kering dengan cara yang lebih modern dan tidak dikerjakan dengan cara konvensional tetapi mulai dari kapal kemudian di sambut alat bongkar muat hingga masuk gudang dan seterusnya,” terang Ary.
Dia mengungkapkan seluruh pelabuhan non Petikemas di SPMT agar selalu fokus melakukan transformasi berkelanjutan melalui standarisasi pelayanan guna peningkatan kualitas pelayanan, tentu hal ini akan memperhatikan infrastruktur dan fasilitas pelayanan dalam mendukung operasional.
Selain itu, upaya digitalisasi yang sudah dilakukan SPMT menjadi bagian transformasi pelabuhan sebagaimana yang dilakukan Pelindo. Hal ini terlihat dari terus menurunnya cargo stay maupun port stay.
Selain itu, lanjut Ary, SPMT akan memperhatikan SDM yang mengerjakan operasional baik itu fisik maupun non fisik dalam kegiatan bongkar muat di lapangan. Kemudian proses bisnis SPMT juga harus di standarkan hal seperti ini harus ditempuh untuk dapat bertransformasi layanan sesuai harapan merger.
Ary juga menjelaskan secara komersial, bagaimana SPMT dapat memenuhi keinginan para pemilik barang atau para pelanggan SPMT yang disesuaikan dengan keinginan mereka seperti apa. Tentu investasi yang dibutuhkan tidak kecil ketika berbicara saat melakukan mekanisasi terhadap mitra SPMT.
“Perlu diketahui anak perusahaan SPMT ada 3 perusahaan yakni PT Pelabuhan Tanjung Priok (PT PTP) tidak hanya beroperasi di pelabuhan Tanjung Priok namun operasinya di 12 Cabang Pelindo Regional 2. Sedangkan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk mengelola Terminal Kendaraan yaitu Tanjung Priok, Makassar, Balikpapan, Pontianak dan Belawan,” sebut Ary.
Ary mengatakan sebenarnya SPMT sangat berkompetisi terhadap apa yang dikerjakan dan belum dikerjakan melihat banyaknya Terminal Non Petikemas hingga berjumlah sampai 3021 terminal di seluruh Indonesia. Sementara yang dikelola SPMT hanya 141 terminal tentu ada terminal yang gede dan kecil untuk satu kawasan.
“Kami berharap support dan dukungan semua pihaknya bagaimana SPMT dapat memberikan kontribusi kepada negara terutama bagi layanan pelabuhan non petikemas untuk kebutuhan masyarakat Indonesia. Karena SPMT mengelola strategi corporasi tentu selalu konsen terhadap pola standarisasi layanan bongkar muat terminal, komersial, efisiensi pengelolaan terminal dan pertumbuhan pendapatan (laba perusahaan) akan kami kelola dari waktu ke waktu,” jelas Ary.
Selain itu, tambah Ary, SPMT kedepan juga berharap dapat menggandeng salah satu cargo owner yang bisa di tingkatkan dan diajak berdiskusi untuk menjadi mitra strategi SPMT.
Ary mencontohkan, salah satu kerja sama yang sudah dilakukan SPMT adalah dengan menggandengkan FKS Group sebagai cargo owner dalam pengelolaan terminal curah kering di Pelabuhan Belawan.
Sementara, Guru Besar Bidang Resiko Logistik Maritim ITS Prof. Dr.Saut Raja Oloan Gurning,pada kesempatan dalam paparannya menilai bahwa potensi pengelolaan kargo yang ditangani SPMT akan terus meningkat. Hal ini berdasarkan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan
“Barang – barang yang diangkut antar pulau di Indonesia masih banyak dalam bentuk curah kering maupun curah cair,” kata Gurning.
Gurning menambahkan upaya digitalisasi maupun peningkatan standarisasi layanan yang dilakukan SPMT pada masing – masing terminal yang dikelolanya diharapkan bisa mengatasi disparitas layanan kargo yang selama ini terjadi.
Executive VP Port Handling and Stevedoring FKS Logistics Wiji Dewabroto mengatakan kerja sama yang telah terjalin antara SPMT dengan perusahaannya terbukti telah mampu meningkatkan kecepatan bongkar muat. Di samping itu, kerja sama tersebut juga membuat penanganan kargo curah kering terutama dalam bentuk pangan dan pakan menjadi lebih baik.(Red-MM).
.