
Mimbar Maritim – Pontianak
Pembangunan Kijing Mampawah Kalimantan Barat, merupakan salah satu proyek strategis PT Pelabuhan Indonesia II (Persero). Untuk saat ini konstruksi pelabuhan sudah mencapai 44,6 persen.
Pelindo II menargetkan 1 km dermaga dan trestle 3,5 km serta kedalaman 15 LWS, diharapkan pada bulan Maret 2020 sudah akan tersambung. Sekarang ini telah dikerjakan secara pararel dari sisi lautnya dan sisi darat bahkan untuk lapangan penumpukan (container yard) petikemas sudah selesai dikerjakan kurang lebih 25 persen.
Demikian di sampaikan GM IPC/PT Pelindo II Cabang Pontianak Adi Sugiri didampingi Deputi GM Hukum dan Pengendalian Internal Muhammad As’ad Cabang Pontianak Mustafa kepada Mimbar Maritim diruang kerjanya, Selasa (18/2/2020).
Adi Sugiri menjelaskan pencapaian lapangan penumpukan sampai 25 persen tersebut terkesan terlambat disebabkan karena di lokasi itu, ada sebidang tanah harus segera di selesaikan dengan masyarakat pemilik tanah tetapi hal ini sudah clear.

Menurut dia, saat ini pihaknya lagi mengurus pengoperasian dengan penetapan DLKp dan DLKr perairan untuk pemanduan dan penundaannya. Karena setelah dermaga tersebut selesai, maka akan ada tim penilai dari Kementerian Perhubungan untuk mengeluarkan ijin operasi. Diharapkan bulan Juli 2020 sudah bisa dilakukan soft launching.
Pembangunan pelabuhan Kijing kata Adi Sugiri merupakan proyek yang sesuai tahapan (on the track), karena dalam pembebasan tanah itu diserahkan kepada Tim Pembebasan Tanah oleh BPN Mempawah. Untuk pembebasan tanah proyek strategis nasional adalah ditangani oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan tim apprasial yang indepeden. ” PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) intinya hanya sebagai juru bayar saja,” imbuhnya.
Adi Sugiri menyebutkan bahwa pembangunan pelabuhan Kijing tahap pertama ini membutuhkan biaya sebesar Rp.5,1 triliun. Keberadaan pelabuhan Kijing Mempawah ini, diharapkan bakal ikut mendongkrak PAD (Pendapatan Asli Daerah) provinsi Kalimantan Barat dari kegiatan ekspor, dan kapal pesiar bagi Parawisata.

Menurut dia, karena pelabuhan Dwikora Pontianak yang berada di Sungai Kapuas, sudah tidak dapat lagi untuk dioptimalkan pengembangannya. Apalagi kedalaman Sungai Kapuas sebagai alur pelayaran wajib dikeruk khususnya bouy 3-4 dan untuk mengeruk menelan biaya kurang lebih Rop.70 miliar per tahun.
“Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat sangat mendukung pembangunan pelabuhan Kijing Mempawah sebagai Proyek Strategis Nasional yakni adanya upaya untuk pelebaran jalan di kawasan Senggiring dan rencana pemindahan akses jalan dari Desa Limau menuju Kelapa Empat,” terang Adi Sugiri.
Adi Sugiri menambahkan rencana kerjasama pembangunan jalan bebas hambatan Pontianak – Kijing Mempawah akan dilakukan oleh Gubernur Provinsi Kalimantan Barat H.Sutarmidji S.H, M.Hum yakni dengan penandatanganan nota kesepahaman bersama dengan perusahaan Malaysia Art Tuhfah Ventus. (Ody-01).